Senin, 26 Maret 2012

Makalah Sastra Nusantara


M.k : sastra Nusantara
Tugas : Individu
RINGKASAN MATERI







Oleh:
R I D W A N
075 114 035
A

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2011




Sastra Jawa Klasik
A.    Sastra Jawa
Secara substansial sastra Jawa klasik dikategorikan sebagai karya sastra yang bernilai tinggi, luhur, langgeng, dan tidak luntur sepanjang masa menurut Shadlily, dalam perkembangan sastra Jawa klasik. Sastra Jawa klasik banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam. Setiap pengaruh dari kebudayaan tersebut, memberikan corak tersendiri dalam sastra Jawa klasik. Dalam sastra Jawa klasik dikenal beberapa genre atau jenis sastra, kesusastraan Jawa klasik pada periode ini terbagi dalam 2 bentuk kesusastraan yaitu yang berbentuk prosa dan berbentuk puisi.
Kesusastraan yang berbentuk prosa yaitu, Prosa Parwa yang dihasilkan pada masa Jawa klasik kebanyakan merupakan gubahan atau saduran dari parva-parva Mahabarata versi Sansekerta yang digubah dalam bahasa Jawa Kuna. Apabila dalam Mahabarata versi Sansekerta kita temui ada 18 parva, maka pada masa jawa kuna hanya ada 8 Parva Mahabarata yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati yaitu:
1.      Parwa Mahabarata tersebut antara lain:
a.       Adiparwa, menceritakan sebuah kisah korban pemusnahan para naga oleh raja Janamejaya, putra Parikesit, buyut Arjuna. Kisah ini berlanjut pada cerita silsilah Pandawa dan Kurawa, kelahiran dan masa muda Pandawa-Kurawa, sampai pada pernikahan Arjuns dengan Sembadra.
b.      Wirataparwa, menceritakan kisah kehidupan para Pandawa di istana Wirata.
c.       Udyogaparwa, menceritakan kisah persiapan perang Bharata, masing-masing pihak mencari sekutu.
d.      Bhismaparwa, menceritakan kisah hari pertama perang Bharata di Kuruksetra, dengan Bhisma sebagai panglima perang dari pihak Korawa.
e.       Asmarawasaparwa, menceritakan kisah Dharastrarasta yang meratapi nasib karena tewasnya seluruh Korawa dalam perang Bharata.
f.       Mosalaparwa, menceritakan kisah musnahnya bangsa Yadu oleh kutukan seorang Rsi yang telah dipermalukan oleh Samba Putra Kresna.
g.      Prathanikakaparwa, menceritakan kisah perjalanan spiritual para Pandawa, menyepi ke tengah hutan dan meninggalkan istana.
h.      Swargaroha, menceritakan kisah para Pandawa yang dimasukkan ke dalam neraka, dan akhirnya masuk surge.
2.      Sastra Wayang
Sastra pewayangan merupakan sastra yang ceritanya bersumber dari epos Mahabarata dan Ramayana. Sastra ini merupakan salah satu sastra Jawa dalam bentuk lisan karena dipentaskan dengan menggunakan wayang baik itu wayang kulit maupun wayang yang lain. sastra Jawa lain dalam bentuk lisan adalah kentruk, yaitu yang diceritakan semalam suntuk.
Sastra yang berbentuk puisi yaitu:
Ø  Kakawin merupakan adaptasi puisi India yang terikat pada pola persajakan yang ketat. Kakawin dalam kesastraan Jawa dikenal sebagai karya penyair yang mempunyai pengertian yang luar biasa. Sastra kakawin biasanya dalam bentuk pupuh yaitu batasan lagu yang terikat oleh banyaknya suju kata dalam satu bait, yang merupakan bagian pengantar seorang penyair dalam memulai karangnya. Contohnya: kakawin Ramayana, kakawin Kresnayan, kakawin Arjunawijaya.
Ø  Suluk berasal dari kata cloka yang berarti puisi. Suluk yang berkaitan dengan ilmu gaib yang memuat ajaran berupa usaha seseorang dalam mencari kesempurnaan hidup berdasarkan ajaran mistik islam. Beberapa karya sastra suluk dalam khasanah sastra jawa antara lain suluk Sukarsa, suluk Wujil, suluk Malang Sumirang (keduanya berupa tembang mecapat atau puisi tradisional), dan duluk yang berkaitan dengan pendalangan (pewayangan).
Ø  Macapat puisi yang berbahasa Jawa baru yang memperhitungkan jumlah baris untuk tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan vocal akhir baris, baik jumlah suku kata maupun vocal akhir tergantung atas kedudukan baris bersangkutan pada pola metrum yang digunakan; di samping itu pembacaannya pun menggunakan pola susunan nada yang didasarkan pada nada gamelan; secaraa tradisioanal terdapat 15 pola metrum mecapat, yakni dhandhang gula, sinom, asmaradana, durma, pangkur, mijil, kinanthi, maskumbang, pucung, jurudemung, wirangrong, balabak, gambuh, megatruh, dan girisa.
Ø  Parikan adalah puisi tradisional Jawa yang mempunyai bentuk kesamaan dengan puisi tradisional Melayu pantun. Puisi ini terdiri dari dua bagian yaitu, bagian sampiran dan sebagian isi. Dalam pemaknaan, bagian sampiran mengandung makna yang  mengacu pada kata-kata yang terdapat pada bagian isi, hubungan antara sampiran dan isi bersifat rahasia.
Ø  Cangkriman adalah sebuah jenis puisi Jawa yang mengandung teka-teki dan perlu dipikirkan atau dijawab oleh pembaca atau pendengar.
Ø  Japamantra adalah jenis puisi yang dianggap memiliki daya kekuatan gaib. Biasanya diucapkan atau dibaca dengan maksud tertentu (pengobatan/tolak bala). Isi Japamantra tersebut sulit dipahami karena terdiri atas kata-kata yang secara leksikal tidak mengandung arti, tetapii dipercaya oleh orang-orang jawa sebagai salah satu bentuk penolak bala.
Ø  Tembang Dolanan Anak-anak adalah Jenis puisi Jawa tradisional yang sering dinyanyikan anak-anak untuk mengiringi permainan yang mereka selenggarakan. Puisi jenis ini tidak terikat oleh peraturan khusus, tetapi merupakan puisi bebas, dan kaya akan dengan bunyi yang teratur. Kenyataannya puisi Jawa pada hakikatnya adalah syair yang dinyanyikan dan tetap lestari sampai saat ini.

B.     Sastra Jawa Pertengahan (Akhir Abad ke-19 Sampai Tahun 1920)
Sastra Jawa pada akhir abad ke-19 digolongkan sebagai sastra pramodern. pada dekade lahirlah karya yang mempunyai warna lain dengan karya sastra sebelumnya. Genre sastra dari masa ke masa mengalami perubahan serta perkembangan. Dalam kurun waktu abad ke-19 sampai pada tahun 1920 sastra Jawa mengalami kebangkitan. Namun, kebangkitan itu mulanya berjalan agak lambat karena masyarakat belum siap menerimanya dan membutuhkannya.
Karya-karya pada periode ini umumnya berbentuk prosa, contoh karya sastra Jawa pertengahan yang berupa prosa
Ø  Sastra Babad adalah salah satu karya sastra yang berbahasa Jawa yang berisi episode-episode dari sebuah kisah sejarah kerajaan Jawa.
Contoh Babad yaitu: Babad Giyanti.

                        Karya sastra Jawa pertengahan yang berupa Puisi:
*      Kidung dan Tembang
Merupakan puisi yang menganut pola persajakan Jawa asli. kidung menggunakan bahasa Jawa tengahan, sedangkan tembang menggunakan bahasa Jawa baru. Puisi ini ditembangkan menurut lagu-lagu khusus, baik disertai gamelan maupun tarian gamelan. Jadi, puisi tradisional Jawa tak dapat dipisahkan  dari seni rupa.
Puisi tembang Jawa banyak sekali jenisnya dan dibagi dalam tiga golongan besar yaitu puisi tembang mencepat, puisi tembang tengahan, dan puisi tembang gede. Puisi sangat terikat pada penuturan, terikat pada guru lagu (persajakan), guru wilangan (jumlah suku kata dalam tiap baris), dan guru gatra (jumlah baris dalam tiap bait).

C.    Sastra Jawa Modern (Periode 1920 Sampai Sekarang)
Sastra Jawa modern adalah sastra Jawa yang telah mendapat pengaruh kebudayaan  Barat atau sastra jawa yang lahir sejak zaman Balai Pustaka. Kelahirannya diawali dengan terbitnya roman atau novel Serat Riyanto karya R.M. Sulardi (1920).
Pada perkembangan sastra jawa modern, maka dapat diketahui bentuk-bentuk sastra (Genre) pada periode ini. Genre sastra pada periode ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
                                                         I.            Fiksi adalah jenis karya sastra yang berisi kisah yang direka, pada umumnya berbentuk prosa (Sudjiman 1990:31)
                                                      II.            Puisi adalah ragam (jenis) sastra yang bahasanya terikat oleh irama, sajak (rima), seperti penyusunan lirik dan bait (Sudjiman 1990:64)
                                                   III.            Genre fiksi meliputi Novel, Cerpen dan Epik.
Berikut adalah beberapa karya sastra Jawa Modern yaitu:
a)      Novel                          b). Puisi
b)      Cerita pendek              c). Drama




Sastra Batak Simalungun

*      Sastra Lisan dan Sastra Tertulis Batak Simalungun

1. Sastra Lisan Simalungun
            Sastra lisan Batak Simalungun dalah sastra yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Simalungun yang diwariskan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Dalam sastra Simalungun, penyampaian sastra secara lisan lebih cepat berkembang dibangdingkan dengan sastra tulisan. Hal ini dikarenakan sastra lisan merupakan sastra tradisional yang berkembang berdasarkan tradisi. Sebagaimana sastra lisan pada umumnya, dalam sastra lisan Batak Simalungun baik yang berbentuk prosa maupun puisi mengandung tiga unsur penting yaitu unsur keindahan, kejujuran, dan kebenaran.
            Adapun penyebaran sifat dan pembawaan sastra Simalungun yaitu:
a)      Penyebarannya dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan dari mulut ke mulut disertakan dengan contoh yang diikuti oleh perbuatan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
b)      Sastra lisan ini bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk yang relative tetap dan tersebar ke seluruh masyarakat dalm waktu yang cukup lama.
c)      Bersifat anonym, yaitu nama pengarang tidak diketahui.
d)     Dalam cerita lisan biasanya ditemukan kata-kata klise dan ungkapan tradisional.
2. Sastra Tulisan batak Simalungun
            Sastra tulisan Simalungun adalah sastra yang berkembang secara tertulis baik dengan bahasa Simalungun maupun bahasa Indonesia. Sastra tulisan Batak Simalungun berkembang sesuai perkembangan zaman yang diciptakan bukan hanya sebagai upaya mendokumentasikan terhadap sastra lisan yang sudah ada, tetapi juga untuk mempertahankan dan menjaga perkembangan sastra itu sendiri guna melestarikan kesusastraan daerah. Jenis dan bentuk sastra tulisan sama dengan sastra lisan Batak Simalungun, yang berbeda hanyalah cara penyampaiannya.
Pembangian jenis Sastra dan Bentuk Karya Sastra dalam kesusastraan Batak  Simalungun  
a)      Jenis Prosa
a.       Dongeng Suci atau Mite
Dongeng suci atau mite adalah prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci. Ceritanya berhubungan dengan keajaiban dan erat hubungannya dengan dewa-dewa yang terjadi di masa lampau.
Contohnya:
Ø  Seorang Gadis Beribukan Kucing
Ø  Cerita Tuan Sormaliat

b.      Legenda
Merupakan prosa rakyat yang berisi kisah-kisah yang berhubungan dengan asal-usul kejadian suatu tempat, gunung, sungai, daerah, dan sebagainya. Legenda tersebar dan diceritakan secara turun-temurun.
Contohnya:
Ø  Turi-turian ni Dolok Tinggi Raja
Ø  Terjadinya Tambak Situri-turi
c.       Kisah Binatang (Fabel)
Fable atau kisah kehidupan binatang dengan segala romantiknya telah sejak lama dikenal anggota masyarakat Simalungun. Kisah tentang binatang mengandung nilai pedagogis yang dapat membantu perkembangan jiwa anak/menuju kedewasaan. Oleh karena itu, cerita ragam fable sangat diperlukan, terutama dalam dunia anak-anak. Dalam cerita fable, pokok cerita yang terdiri dari binatang-binatang hidup bagai manusia dilukiskan dapat bercakap-cakap, bertingkah laku, mengalami berbagai masalah hidup.
Contohnya:
Ø  Cerita Kancil dengan Kera
Ø  Cerita Buaya dengan Beruang
d.      Cerita Pendek Lucu
Cerita pendek lucu adalah cerita yang berkembang dalam masyarakat Simalungun yang berrsifat humor, sebagai hiburan yang dominan di tengah-tengah masyarakat baik tradisional maupun masyarakat modern.
Dilihat dari segi penokohan, jenis cerita ini dapat dibedakan atas dua golongan yaitu:
1)      Cerita lucu bertokoh tetap, misalnya Simarsingkam dan Si Johana sebagai perlambang kecerdikan, bernasib baik dan bernasib sial.
2)      Cerita lucu yang bersifat melembaga dalam kultur masyarakat Simalungun.
Dilihat dari segi isi, cerita lucu dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
ü  Cerita Lucu Sopan
ü  Cerita Lucu Jenaka, misalnya yang menceritakan kebodohan
ü  Cerita Lucu porno
b)     Jenis Puisi
Puisi-puisi Batak Siamlungun dapat dibedakan atas berbagai jenis sebagai berikut:
*      Umpasa, yaitu semacam pantun syair yang mengandung makna restu dan doa pengharapan. Umpasa maksudnya sama dengan pantun yang merupakan puisi milik masyarakat. Berdasarkan tingkat umur, umpasa dibagi atas tiga bagian, yaitu:
1)      Umpasa ni Dakdanak “Pantun Anak-Anak”, contohnya:
Asok Idogel-dogel                “Pelan diinjak-injak”
Anak Boru Marlajar               “Gadis Remaja Putri”
Asok Ielek-elek                     “Pelan dibujuk-bujuk”

Umpasa ni Dakdanak menurut sifat dan isinya dibagi menjadi dua, yakni:
-   Umpasa ni Dakdanak Marhoru                  “Pantun Anak-anak dukacita”
-   Umapasa ni Dakdanak Mariah                   “Pantun Anak-anak Sukacita”
2)    Umapasa Ni Na Maposo “Pantun Orang Muda”,contohnya:
Menurut situasi dan keadaan, umpasa ni na maposo dapat dibagi menjadi:
-    Umpasa Nasib                             “Pantun Nasib”
-    Umpasa Marsitandaan                 “Pantun Perkenalan”
-    Umpasa Percintaan                      “Pantun Berkasih-Kasih”
-    Umpasa Parsirangan                    “Pantun Perpisahan”
-    Umpasa Marhoru                         “Pantun Berduka Cita”
-    Umpasa Jonaka                            “Pantun Jenaka”
3)      Umpasa Ni Na Matua “Pantun Orang Tua”
Menurut isi dan fungsinya, umpasa ni na matua dapat dibagi menjadi:
-    Umpasa Adat                              “Pantun Adat”
-    Umpasa Agama                           “Pantun “Agama”
-    Umpasa podah                             “Pantun Nasihat”
*      Hutinta “Teka-Teki”
Hutinta Simalungun dapat dibagi atas Huntinta Biasa, Hutinta Umpasa, Hutinta Turi-Turian. Hutinta biasa dan hutinta Umpasa ada yang terdiri 2 baris kalimat pendek dan ada yang terdiri dari 4 baris kalimat pendek berbentuk pantun. Sedangkan Hutinta turi-turian “teka-teki” disampaikan dalam bentuk cerita, ada yang pendek dan ada yang panjang ceritanya.
*      Limbaga Simalungun
Dapat disamakn dengan Bidal, yaitu pribahasa atau pepatah yang mengandung nasihat, peringatan, sindiran yang terbagi atas delapan yaitu:
ü  Ungakapan yang dalam bahasa Indonesia sama dengan kiasan pendek yang merupakan penggalan kalimat, contoh:
·         Singanjang Dillah                   “Panjang Lidah”
·         Sirompa Dalihan Na Bolah    “Kikir Sekali”
ü  Tudosan atau perbandingan ialah perasosiasian antara pokok persoalan dengan benda atau hal lain. contoh:
·         Pajok Sangan Tanja Na Lupa
Tertancap Seperti Tombak
ü  Umpasa ‘perumpamaan’ ialah perbandingan atau persamaan. Kalimat umpasa selalu diawali dengan kata-kata: Songon ‘seperti’, laksani ‘laksana’, dan saporti ‘seperti’, contoh:
·         Saporti huling-huling pakon daging
‘seperti kulit dengan tulang (kurus benar)’
ü  Usihan serupa dengan umpama dipergunakan serba teladan yang baik, contoh:
·         Songon Bah Pakon Boras
‘seperti air dengan beras’. Artinya, menyatakan saling membantu dan tak terpisahkan.
ü  Limbaga “ibarat” ialah perumpamaan yang diperjelas, contoh:
·         Laksoni Bah Parsirukuhan, anggo pot jol na.
“laksana air kumur-kumur, kalau kita suka boleh”
ü  Salingan “Pepatah” ialah peribahasa yang seolah-olah dapat mematahkan atau menginci pembicaraan orang, mengandung kiasan, contoh:
·         Seng ilompoui abaru ulu
“Bahu Tidak Pernah Lebih Tinggi Dari kepala”
ü  Alinan “peribahasa”. Alinan ini sukar diartikan karena bersifat teka-teki yang tidak langsung dijawabnya, contohnya:
·         Kalau ada orang yang menyebutkan marganya tidak langsung dijawabnya. Pertanyaan diajukan, “dadi aha do ham dahkam?
Apakah marga saudara? Lalu dijawab dengan, modom-modom itoruh harang gagat-gagat hu sampalan.
‘Tidur-tidur di bawah kolong, makan-makan di padang rumput’.
Maksudnya jawaban itu ialah kerbau pantangnya marga-purba.
ü  Ongonan “pemeo” adalah sejenis peribahasa yang berisi sejenis olok-olok yang menjadi buah bibir orang, contohnya:
·         Dong do si Pogal?
Adakah si pogal atau si cebol?
c)      Peranan Sastra Batak Simalungun
§  Peranan sastra jenis prosa
                                                       I.            Sebagai system proyeksi, yakni mencerminkan angan-angan kelompok
                                                    II.            Sebagai alat pengesahan pranata sosial atau lemabaga kebudayaan
                                                 III.            Sebagai alat pendidikan
                                                 IV.            Sebagai alat pemeriksa dan pengawas norma-norma masyarakat yang dipatuhi
§  Peranan sastra jenis puisi
Pada jenis puisi, yang lebih berperan yaitu pada perwujudan dalam acara-acara tradisi atau adat serupa upacara-upacara, memasuki rumah baru, acara muda-mudi, upaya keagamaan dan lain-lain.
Sastra Minangkabau
LATAR BELAKANG KEBUDAYAAN
Daerah asal kebudayaan Minangkabau kira-kira seluas provinsi Sumatera Barat sekarang, dikurangi daerah kepulauan Mentawai. Dalam pandangan orang Minang sendiri yang disebut daerah alam Minangkabau ialah dataran tinggi Sumatera Barat, yang meliputi Luhak Agam, Luhak lima puluh kota dan Luhak tanah datar, serta daerah pesisir Padang Pariaman, Painan, dan Sungai penuh. Umumnya orang Minangkabau mencoba menghubung-hubungkan keturunan mereka dengan suatu tempat asal mula nenek moyang orang minagkabau yakni Pariangan, Padangpanjang. Dari sanalah nenek moyang mereka berpindah dan kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sumatera Barat yang sekarang.
Penduduk kebudayan Minangkabau tersebar jauh keluar daerah alam Minangkabau itu sendiri yakni di beberapa tempat di Sumatera dan Malaysia. Di pantai barat Aceh, yakni di sekitar Meulaboh terdapat Koloni orang-orang Minang, demikian Negeri Sembilan adalah suatu daerah yang dialami oleh orang-orang yang berasal dari Minangkabau, yang telah bermukim disana kuran lebih sejak abad ke -15. Adat Minangkabau ialah suatu sistem peraturan hidup yang diatur dengan kato-kato. Tang dimaksud dengan kato-kato ialah serangkaian kata-kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari dua kata-kata pendek, tetapi mengandung arti yang sangat dalam dan luas fahamnya, karena kalimat pendek tersebut tersusun dari kata-kata pilihan. Maksud kalimat pendek itu ialah segala tingkah laku serta fill perangai dan tindak-tanduk kita yang merupakan sikap hidup sosial dalam masyarakat haruslah menurut apa yang telah digariskan dalam adaik nak Nan tak lapuak dek hujan, tak lekang dek paneh, ang dicabuik mati, dianjak layua. Adat di alam Minangkabau adalah merupakan undang-undang hukum yang tak tertulis tetapi harus dipatuhi sebaik-baiknya, yang dalam pelaksanaannya selalu diselaraskan dengan hukum agama, yakni agama islam. Adat dan agama dalam kebudayaan Minang tidak bertentangan, malah sebaiknya kuat-menguatkan. Seorang Minang akan hidup dengan aman dan sentosa dengan menunaikan ajaran agamanya, yaitu agam islam dan selalu berjalan menurut adat dalam negerinya, yakni adat Minangkabau dengan semboyan, “hiduik beradaik, mati beriman”.
Begitulah lata belakang kebudayaan masyarakat Minangkabau yang melatar belakangi lahirnya karya sastra yang luar biasa di daerah hebat ini.
B.  JENIS DAN CONTOH KARYA SASTRA MINANGKABAU
            Kesusastraan ialah salah satu cabang kesenian, yang termasuk pula pada salah satu unsur penting dalam suatu kebudayaan bangsa. Kesusastraan adalah sebagian dari pernyataan (ekspresi) gerak jiwa manusia yang dilahirkan secara imajinatif dengan dukungan dan gaya bahasa yang mengandung nilai-nilai estetika, dan mengandung pikiran-pikiran atau konsep-konsep yang mulia dan bernilai. Yang dapat menggugah cita rasa seni orang yang membaca atau pendengarnya. Dan karya sastra semacam itu pun lahir di daerah Minangkabau dari manusia-manusia jenius, yang mempunyai cita rasa seni yang luhur dan berjiwa kreatif yang bukan saja terdapat dalam masyarakat modern seperti sekarang namun juga lahir dari sastrawan serta seniman pada masa lampau. Dan yang dimaksud dengan Sastra Minang ini adalah :
  1. Cerita atau Kaba (Novel)
  2. Pantun
  3. Randai (Drama Klasik Minang)
  4. Kato Adaik (kata-kata adapt)
  5. Umpamo (Perumpamaan
1.  Cerita atau Kaba ( Novel)
            Kaba adala sejenis karya sastra orang Minang, yang berbentuk Novel yang disampaikan dalam bentuk prosa liris, dengan kalimat-kalimat pendek berirama dan bermantra yang terdiri daripada 8, 9, atau 10 suku kata tanpa persajakan. Isinya kebanyakan berupa legenda. Gaya bahasanya penuh berhiaskan pantun dan seloka bernada erotic dan moral. Dan Kaba ini pun terkenal karena penyampaiannya yang istimewa.
           
            Cerita Kaba dalam sastra Minang dapat kita beda-bedakan atas beberapa jenis, yakni :
a.       Yang berisi cerita didaktis, berisi petuah dan petunjuk baik moral didaktis, maupun religius didaktis, seperti :
  • Kaba Si Malingkundang
  • Kaba Si Rancak di Labuah
  • Kaba si Tupai Janjang
b.      Yang berisi cerita pengembaraan dan percintaan sorang raja,seperti :
  • Kaba Malin Deman
  • Kaba Malin Duano
  • Kaba si Manjuari
  •  
c.       Yang berisi tentang kepahlawanan, seperti :
  • Kaba Rajo Angek Garang
  • Kaba Cindeu Mato
  • Kaba Siti Jamilah
Kaba itu berupa sastra lisan yang disebarkan dari mulut ke mulut, hal ini membuat kita sukar untuk mengetahui dengan pasti bila dan betapa lahirnya sastra Kaba itu dalam kesusastraan Minangkabau. Namun bila merujuk dari terminologinya dapat dkatakan bahwa Kaba ini adalah karya sastra Minang yang dapat pengaruh dari Arab karena kata Kaba itu sendiri berasal dari Arab. Dan bila menelusuri Kaba, kita akan mendapatkan sebuah pemahaman bahwa tema utama pada sastra Minang pada umumnya berkisar pada tema Tradisional, yang paling umum bertemakan “ Kejahatan akan hancur oleh kebaikan dan kebenaran”.
2.  Randai (Drama)
            Randai ialah sejenis hasil seni budaya Minang yang merupakan drama klasik Minang dengan unsur sastra yang kental, yang membawakan cerita-cerita kaba seperti yang telah dibicarakan di atas. Perkataan Randai mungkin sekali berasal dari kata Rantai yang telah mengalami pergeseran bunyi konsonan (t) menjadi (d). Perkataan Merandai dalam dialek Minang mengungkapkan arti, mengaruhi rawa-rawa untuk mencari sesuatu dengan gerak melingkarseperti rantai.
Pertunjukan cerita randai ini dibawakan oleh para pelakunya dalam posisi berbentuk lingkaran, disuatu lapangan terbuka pada waktu malam terang bulan, dengan iringan bunyi-bunyian seperti Saluang, gandang, rabab, pupuki, batang padi, bansi, dan talempong, serta rabana. Seni Randai mempunyai kedudukan tersendiri dalam kebudayaan Minangkabau. Dalam pagelaran seni randai ini tercakup seluruh kesenian Minang seperti : (1) seni tari, (2) seni pencak, (3) seni sastra, (4) seni rias, (5) seni bunyi-bunyian, dan (6) seni pentas.
Pada hakikatnya seni randai ini selian pada pelipur lara menghiburkan hati setelah lelah bekerja sepanjang hari di sawah dan di lading, ia juga merupakan wadah tempat melatih ketangkasan dan kegesitan angkatan muda yang berjiwa heroic dan patriotic, karena dalam seni ran dai itu terdapat seni pencak silat, yang menjadi dasar penyajian cerita yang hendak didukungnya. Para pelaku randai terdiri dari pada pemuda-pemuda yang pendekar dan pandai randai yang masih asli, seluruh pelakunya terdiri atas dari pada pria. Seni randai juga merupakan wadah tempat memupuk cita rasa seni serta kehalusan dan keluhuran budi angkatan muda, sebab di dalamnya terdapat unsur-unsur seni tari dan seni sastra, serta seni suara yang diirngkan oleh irama bunyi –bunyian tradisional Minang seperti : salung, puput, bansi, rabab, gendang, rebana, dan talempong. Para pelaku dalam cerita randai terdiri dari pada anak-anak muda yang pandai berlagu dan menari, serta berlakon.
            Selesai melakukan persembahan / penghormatan maka dimulailah mendengarkan irama lagu pembukaan yang berisi pantun-pantun serta talibun, memohonkan maaf kepada para hadirin yang kemudian dilanjutkan dengan prolog pengantar cerita yang akan dipertunjukkan dalam bentuk bahasa berirama. Sementara juru aliah melagukan prolog itu, maka seluruh pelaku berdiri dalam posisi melingkar penuh. Selesai juru aliah menyampaikan prolognya, maka barulah dimulai mempertunjukkan babak pertama yang terdiri atas beberapa adegan. Setiap adegan baru akan dimulai, bila seluruh pelaku menyanyi dan menari, isi lagunya menceritakan kisah berikut. Setiap adegan dilakonkan dalam lingkaran dengan dialog dan gerak, oleh pelaku yang berperan itu melakukannya di tengah lingkaran, seluruh pelaku yang lain berdiri dalam posisi melingkar atau ladam kuda.
Demikianlah berturut-turut dilakukan adegan demi adegan serta babak demi babak. Lagu yang diperdengarkan pada tiap adegan itu bermacam-macam pula nada dan iramanya, disesuaikan dengan jalan cerita berikutnya. Lagu pilu pada babakan duka, lagu bahagia pada babakan bersuka cita, dan lagu gemuruh pada babakan peperangan / perkelahian.
Babak terakhir ditutup dengan pemberian hormat kepada penonton dengan gerak dan tarian khas.
                        Lagu-lagu pengantar yang lazim ialah :
1)                                      Lagu siriah kamang (lagu pengantar pertunjukan)
2)                                      Lagu si Marantang (lagu pengantar babak I)
3)                                      Lagu si Marantang (lagu-lagu selingan)
4)                                      Lagu si Dorak-dorai (lagu penyemangat)
5)                                      Lagu Sanial Tumba (lagu pengantar babak IV)
6)                                      Lagu Malereang Tabiang (lagu berirama mendayu-dayu)
7)                                      Lagu Kelok Sambilang (lagu berirama sedih)
8)                                      Lagu talipuak Layuaa (Lagu Penutup)
3. Pantun
Sastra pantun adalah milik seluruh masyarakat Indonesia. Ia bukan saja dalam kesusastraan Melayu, Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Bali, Makassar, juga dalam kesusastraan Minang bentuk pantun itu hidup subur dengan indahnya. Tak ada yang tiada dipantunkan oleh orang Minang. Para penghulu telah menerapkan pantun itu kedalam pidat-pidatonya. Kata kata adapt seperti pepatah-petitih, pituah dan mamangan, dan ibarat telah diolah dalam acuan pantun yang amat mengesankan. Sebagai contoh :
Panakiak pisau sirauk
            Ambiak galah batang lintabuang
            Salodan ambiak ka nyiru
Nan satitik jadikan lauik
Nan sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadikan guru

Biriak-biriak tabang kasasak
Dari sasak ka haalaaman
Patah sayok taabang berganti
Dari niniak turun ka mamak
Dari mamak ka kamanakan
Patah tumbuh hilang baganti

Jiko dibalun sabalun kuku
Jiko dikamba salemba alam
Walau sagadang bijo labu
Bumi jo langik ado di dalam

Pucuk pauh sedang tajelo
Panjuluak bungo gallundi
Nan jauah silang sangketo
Pahaluih baso jo budi

Nan kuriak lolah kundi
Nan siraah iolah sago
Nan baiak iolah budi
Nan endah iolah baso

Anggang jo kekek bari makan
Tabang ka pantai kaduanyo
Panjang jo singkek paulehkan
Makanyo sampai nan dicito

Latiak-latiak tabang ka pinang
Hinggak di pinang duo-duo
Satitiak aia dalam pinang
Di sinam bamain ikan sayo.
Tukang dendang memainkan pantun untuk menimbulkan kegairahan pada penggemarnya. Ini mungkin disebabkan alat bunyi-bunyian Minangkabau sangat sederhana, hingga tak mampu mengungkapkan irama yang menawan hati, dan mungkin juga lagu-lagu Minang oleh karena kesederhanaan alat bunyi-bunyiannya yang jadi kurang “melodius” sebagaimana lagu-lagu melayu. Inilah yang membuat peranan pantun didalam kesenian semakin menonjol jika dibandingkan dengan yang lainnya. Pantun mempunyai tenaga yang sangat kuat untuk mengumbarkan segenap cita rasa para pengubahnya. Baik perasaan gundah gulana, perasaan riang gembira, perasaan kesal dan kecewa, ataupun perasaan tawakkal dan putus asa.
Kehadiran syair dalam kesusastraan meinagkabau tidaklah sampai mendesak kedudukan pantun. Baik pantun maupun syair tetap mengambil tempat sendiri-sendiri. Pantun selalu menggambarkan kehidupan kebudayaan Minangkabau, sedang syair tetap menggambarkan kehidupan keagamaan dalam masyarakat minang. Pidato-pidato serta pasambahan datuk-datuk dan para cerdik pandai di Minangkabau tak pernah dihiasi oleh syair. Rupanya bentuk syair tidak mendapat tempat yang luas dalam kebudayaan Minangkabau asli.
4. Kato Adaik (kata-kata adat)
Hasil karya sastra pada satu sisi masyarakat yang menghaslkannya di sisi lain mempunyai hubungan yang sangat erat. Dan sebelum kita melanjutkan tinjauan terlebih dahulu keadaan masyarakat Minang yang melahirkannya atau melatar belakanginya. Masyarakat Minang terkenal sebagai suatu masyarakat yang sangat kukuh berpegang pada adat mereka “yang tak lakang den paneh” dan “tak lapuak dek huaman” itu, yakni adat yang menggariskan norma-norma tertentu yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakatnya. Adat yang membimbing masyarakatnya agar mempunyai pandangan hidup seperti yang digariskan oleh kato-kato adaik berikut ini :
“ Anak saparentah bapak, kemanakah saparentah mamak, mamak saparentah alua jo patuik “.
            Alur dan patut sesuai dengan bunyi kata adat berikut ini :
Nan elok di awak, elok pula di urang
            Nan kuriok iyolah kundi
Nan siro iolah sago
Nan baiek iyolah budi
Nan endah iolah baso
Segala sesuatu keputusan hendaklah diambil berdasarkan permufakatan seperti kata adat berikut ini :
Bulek aia dek pambuluah
Bulek kato dek mupakaik
Aie mamlului batuang
Kabanaran malului urang
Pengertian “Raja” dalam Minangkabau berbeda dengan didalam masyarakat di daerah lain. Raja didalam Minangkabau ialah “ Nanak mamiak” atau “penghulu” yang memegang pucuk pimpinan dalam suatu suku, yang tidak boleh bertindak sewenang-wenang, sebab adapt memerintahkan :
Orang gadang, di gadangkaun mangkonyo gadang
Tumbuahnyo batanan, gadangnya di lambuak.
Yang bernama Raja tak lain dan tak bukan ialah Patut, seperti kata adatnya :
Kamanakan barajo kapado mamak
Mamak barajo kapada penghulu
Pangulu barajo kapado mupakaik
Mupakaik barajo kapada alua jo patuik
Seperti itulah kato adaik atau kata-kata adat dalam sastra Minangkabau memegang peran yang cukup penting dalam kultur masyarakat Minangkabau karena mampu menjadi sebuah kekuatan untuk tetap menjaga tatanan masyarakat dan Raja agar menjalani hidup dengan berlandaskan norma-norma masyarakat yang telah dipatuhi.
5. Umpamo (Perumpamaan)
            Umpamo atau perumpamaan ialah suatu corak kato-kato dalam bahasa Minang mencakup pengertian : kias, ibarat, tamsil, sindiran, pameo, atau kuciak, suatu bentuk penggunaan bahasa  yang mengandung sindiran atau kias, tidak berterus terang. Pada umumnya orang Minang sangat bijak menggunakan kalimat-kalimat atau kato-kato perumpamaan itu. Dalam setiap percakapan, perundingan, rapat atau pidato, selalu kita dengar penggunaan kato-kato umpamo itu diucapkan dengan tepat dan fasih oleh orang Minangkabau, baik pria maupun oleh kau wanitanya. Orang Minang sejak kecil telah diajar dan dilatih sebagaimana seharusnya bertutur kata, baik kato mandate, kato malereang, kato mandaki, dan kato manurun, pada tempat dan waktunya. Orang-orang tua Minang selalu mengatakan kepada yang muda-muda, “manusia tahan kie, kabau tahan palu”. Mereka harus selalu berhati-hati bertutur kata jangan seenaknya saja, hal ini digariskan dalam pepatah yang berbunyi, “Bakato peliharakan lidah, bajalan pemaeliharakan kaki. Kaki terdorong inai padahannya, kato terdorong emas padaahannya. Muluik kamu harimaumu, yang akan mengerkah kepalamu”.
Sikap hati-hati serta hemat dan cermat dalam bertutur kata bukanlah menyebabkan orang Minang menjadi pendiam. Malah suku Minang termasuk orang yang paling gemar berbicara, pandai beranggar lidah, mempermainkan kata-kata, baik yang tersurat, maupun tersirat. Orang Minang gemar “ Baraja kan nak cadiak, amniru ka nan racak, mambiak tuah ka nan manang, maambiak contoh ka naan sudah”.
Kefasihan berpidato, kelincahan berbicara mengungkapkan pepatah dan petitih, serta kato-kato umpamo itu, melambangkan kecendekiaan seseorang dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Berbicara, berunding, bermufakat, atau bermusyawarah, adala kewajiban dan hak setiap orang, yang disebut baiyo batido-tido.

C.  TUJUAN SASTRA MINANGKABAU
            Meninjau arti dan kedudukan serta niali Kaba, Pantun, Randai, ato adaik dalam pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Indonesia, berarti meninjau arti dan kedudukan serta nilai kesusastraan daerah umumnya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Indonesia. Oleh karena kesusastraan itu merupakan suatu bagian dari pada kebudayaan suatu bangsa berarti juga meninjau dan menilai kedudukan kebudayaan. Kesusastraan dalam wadah untuk mencapai cita-cita dan pengalaman jiwa para penciptanya kepada masyarakatnya pada suatu masa dan suatu tempat. Ia adalah manifestasi daripada cita rasa dan karsa manusia penciptanya, yang kemudian disampaikannya melalui gubahan dengan gaya bahasa yang menarik. Itulah yang menjadi problem suatu hasil karya sastra dalam suatu masyarakat. Tegasnya, kesusastraan adalah cermin masyarakatnya yang melahirkannya.
            Bernilai tidaknya suatu karya sastra pada suatu tempat bukanlah semata-mata teletak pada bentuknya yang formal, melainkan de-ide, tema-tema, serta konsep-konsep kehidpan yang dikemukakan penciptanya. Seni yang berniali bukanlah yang semata-mata dari alam fantasi seniman, dia harus lebih mulia daripada itu. Ia merupakan suatu organ kehidupan manusia pada jamannya yang memenuhi nilai estetika, logika, dan dialektika.
Ditinjau dari prinsip ini, yakni dari sudut perikemanusiaan, maka dapatlah diambil suatu kesimpulan yangh jelas, bahwa karya sastra Minangkabau yang tadi telah dibahas mempunyai nilai yang tinggi ditengah-tengah karya sastra Indonesia. Temanya yang cukup kuat dan berbobot melambangkan hasrat hati setiap putra Indonesia senantiasa gandrung akan cinta kasih antar sesama, gandrung akan kehidupan yang setimbang tenang, gandrung akan keadilan dan kebebasan, jauh dari intimidasi, tekanan dan ancaman. Untuk semua itu karya sastra Minangkabau pada khususnya mampu mengilhami masyarakatnya untuk senantiasa melakukan yang tebaik bagi diri sendiri dan untuk bangsa Indonesia.
Sastra Mandar
*      SASTRA MANDAR
BEBERAPA KARYA SASTRA MANDAR
Kalindaqdaq
a.      Pengertian dan Jenis Kalindaqdaq
Istilah kalindaqdaq berasal dari bahasa melayu yang terdiri dari tiga patah kata, yaitu kalimat indah-indah disingkat menjadi kalindaqdaq (Kal=kalimat, ndaq=indah, ndaq=indah): jadi, yang dimaksu kalindaqdaq adalah pernyataan pikiran dan perasaan dalam untaian kata yang indah. Kalindaqdaq di dalam setiap bait dengan perbandingan jumlah suku kata yang tetap yaitu sebagai berikut:
1.      Pada larik pertama terdiri dari delapan suku kata
2.      Pada larik kedua terdiri dari tujuh suku kata
3.      Pada larik ketiga terdiri lima suku kata
4.      Pada lari keempat terdiri dari tujuh suku kata
Bebtuk persajakan dalam puisi Mandar umunya bebas, tetapi ada juga yang bersajak akhiran aaaa, abab, abba, aabb. Jika ditinjau dari segi jenisnya maka kalindaqdaq dapat dibagi dalamtiga bagian yaitu:
1.      Kalindaqdaq Tomanetuo adalah bahasa yang indah puisi tradisional yang ada di daerah Mandar yang memili susuna tersendiri. Dalam puisi ini menggambarkan rasa rindu, rasa pilu. Kalindaqdaq Tomanetuo terbagi atas dua jenis yaitu:
·         Kalindaqdaq Naemuane adalah kalindaqdaq yang digunakan dalam lingkingan anak muda atau kaum remaja. Contoh:
Tennaq rapangdaq uai              Artinya: ‘Seandainya aku laksana air
Lambaq lolong lomeang                                       Mengalir kesana-kemari
Mettonang banda                                      Maka aku berlinag
Dinaunna endeqnu                                   Di bawah naungan tanggamu’
·         Kalindaqdaq naebaine biasanya diperuntukkan kepada kaum gadis. Contoh:
Dotamaq daiq di bulang                        Artinya: ‘Lebih baik aku pergi ke bulan
Miqaraq leqmai                                        Kemudian menjatuhkan diri ke bumi
Mongeq nyawau                                       Dari pada jiwaku merana
Mate tang memmuane                              Akan meninggal tak bersuami’
2.      Kalindaqdaq nanaqeke adalah kalindaqdaq yang digunakan dalam lingkungan anak-anak. Jenisnyapun bermacam-macam ada yang menggambarkan kegembiraan, berolok-olok, sindiran, jenaka, dan ada yang menggambarkan kesedihan. Contoh:
v  Meqapa ami I kindoq                             Artinya: ‘Bagaimana gerangan bunda
Muaq marrangi bulang                            Kalau malam nan terang bulan
Membueq ami                                           Barangkali terbangun
Di baona kuqburna                                  Di atas pusaranya
3.      Kalindaqdaq Tomabubeng yaitu kalindaqdaq yang sering digunakan dalam l;ingkungan orang-orang tua. Isi kalindaqdaq jenis ini mengandung makna berupa ajaran-ajaran yang berhubungan dengan keagamaan, pendidikan, nasihat-nasihat, dan ucapan-ucapan yang digunakan pada saat upacara meminang dan menerima pinangan.
v  Kira-kirai diolog                        Artinya: ‘Hitung-hitunglah dahulu
Sare ile-ile                                                 Saring baik-baik persoalannya
Dao manini                                               Janganlah engkau nanti
Massoso alabemu                                     Menyesali dirimu’
b.      Kedudukan dan Fungsi Kalindaqdaq
Ø  Sebagai media pendidikan
·         Teguh pada pendirian
·         Tanggung Jawab
·         Kesetiaan
·         Keagamaan
Ø  Sebagai media hiburan
1.    Pasang
Sejak dahulu kala rakyat Mandar sangat rukun, bersatu aman, dan makmur hal ini seiring dengan ditumbuhkembangkannya antara lain lima pesan-pesan yang telah berakar kuat dalam budaya Mandar yaitu:
¡ Da marruppu-ruppu allewuang siola assamalewuanna paqbannua
(Jangan menghancurkan kesatuan/persatuan dan kesepakatan rakyat).
¡ Da mallatta-lattapetawunna litaq
(Jangan melanggar adat, kabiasaan dan hokum adat yang berlaku dalam negeri).
¡ Da marrattas atuotuoanna paqbannua
(Jangan memutuskan atau mengganggu kehidupan/ekonomi rakyat)
¡ Da mambottu-bottu palluluareang
(Jangan memutuskan silaturahmi)
¡ Da mappolong rio rannunna paqbanua
(Jangan menolak keinginan dan harapan rakyat banyak)
2.    Dongeng
Beberapa dongeng Mandar sebagai berikut:
·      Tomarakkeq pelaccaq baqba       (Orang yang takut pada palang pintu)
·      Posa anna manuk                        (Kucing dan ayam)
·      Jonga anna asu                            (Rusa dan anjing)
·      Abunawas anna I buta                (Abunawas dan orang buta)
·      I Laurang                                    (Manusia Udang)
·      Puccangngo                                 (Si Tolol)
·      Tositoleq                                     (Orang yang Melekat)
·      I Tindo                                        (Si Penidur)
3.    Elong
Elong adalah sebuah syair lagu yang menggambarkan akan perasaan seseorang dan juga sebagai alat penghibur di kala duka. Contoh:
LITAQ PEMBOLONGAN
(Tanah Tumpah Darah)
Buttu-buttummu nadiong                       Di sana gunung deret berderet
Di litaq mulimbo-lombo                        Di bumi pertiwi kita
Lopi-lopinnya poyala                             Beberapa perahu nelayan
Merio-rio pamai                                    Sangan mengembirakan

Bayu pokko to Banggae                         Baju pokko orang Majene
Beruq-beruq to Kandemeng                  Kembang melati orang Kandemeng

Lipaq saqbe to Karama                         Sarung sutra orang Karama
Siratang di pebokoang                           Sangat serasi dalam penampilan
Sali-salilipang mating                            Sangat rindu akan padamu
Di litaq-litaqna Mandar                         Di bumi tanah Mandar
Litaq-litaq pembolongan                       Bumi kampong halaman
Disalili allo bongi                                  Terkenang selalu siang malam
4.    Mattede
Mattede selai sebagai syair penyindir kepada seseorang baik kepada sang kekasih maupun kepada seorang pejabat yang berbuat kekeliruan atau kebajikan yang tentunya akan disesuaikan dengan syair dan makna dari puisi tersebut. Berikut contoh Mattede:
§  Muaq tisollori doe                             Jika tombak sambar-menyambar
Sisulli mata gayang                           Keris silang menyilang
Nasiap’I bulang anna litaq               Bumi dan langit telah berpaut
Tisembeq kondobulo                         Parang panjang bersimbah siur
Muaq purami dipalandang               Namun apabila sudah ditetapkan
Pemali diliaqi                                    Pantang diingkari
Mao nalimbang nyawa                     Jiwa bias melayang
Tale nalallaq pura loa                      Tetapi ketetapan pantang diingkari

§  Muaq tammeburaqmi tadu               Jikalau pinang sudah tidak berbunga
Tatisambaqmi lembong                    Ombak tidak lagi memecah pantai
Tammappadendangi palungan         Lesung sudah tidak lagi berdendang
Manuq tacciccirokoq tomi                Di mana ayam sudah tidak berkokok
Ambei abeasang                               Jemputlah kebiasaan
Diassimemanganna todioloq            Tradisi pendahulu
O-diada o- dibeasa                           Sesuai dengan adat kebiasaan
5.    Peribahasa
*   Manosoi tappaq litaq dadi tappa kowiq. (Lebih berbisa ujung lidah daripada ujung batik).
Artinya: ucapan lemah lembut (Selalu merendah seseorang sepatutnya lebih ditakuti daripada orang yang selalu membawa badik dipinggang).
*   Muaq diang pogereang, gereqi dibarona, daleqbaq tia mugereq di tondonna. (Kalau ada yang harus disembelih, sembelihlah pada lehernya, jangan sekali-kali engkau belih di punggungnya).
Artinya: jika ada orang yang harus dihukum berilah hukuman yang sesuai undang-undang, jangan dijatuhi hukuman yang tidak adil.
*   Mo manumanuq pebamba nipeqirrangngi toi. (Biar hanya kicau burung kita juga harus dengar).
Artinya: sekecil apa pun pendapat orang harus dihargai.
*   Ate mapaccing dipamula lao di tau. (Budi baik bertitik tolah dari pribadi).
Artinya: untuk mendidik dan membimbing seseorang agar memiliki tingkah laku yang baik, harus dimulai dari memberikan contoh dari pribadisi pendidik.
*   Andiang tau mappiuranni siana. (Tidak ada orang yang memperhujankan garamnya).
Artinya: tidak ada orang yang membiarkan dirinya atau keluarganya menaggung sengsara. Pada kebaikan menyembunyikan keburukannya.


La galigo

A.    Defenisi La galigo
La galigo adalah salah satu karya sastra dari bugis yang merupakan epos terpanjang di dunia. La galigo adalah tulisan-tulisan yang terdapat didalam ribuan manuskrip yang kini terbesar di berbagai perpustakaan baik didalam maupun diluar negeri, atau yang tersimpan serpihan-serpihan episodenya pada sebagian orang bugis yang masih setia memelihara dan menjaganya. Sebaiknya, bila hanya menyebut GALIGO itu berarti yang dimaksudkan adalah tembang-tembang dari naskah la galigo yang dinyanyikan pada upacara-upacara ritual dengan ritme yang tetap dan datar.
La galigo merupakan salah satu karya sastra bugis yang kini tersebar di berbagai perpustakaan baik  dalam maupun di luar negeri. La Galigo ada juga yang disimpan di Library of Congress di Washington Amerika Serikat yaitu salinan dari Husin bin Ismail, seorang bugis keturunan Wajo yang bekerja di singapura. Dari segi umur naskah yang disalin sekitar tahun 1940 ini boleh dianggap sebagai naskah yang sudah tua. Sureq Galigo adalah kitab suci yang bersifat mitos yang bagi sebagian orang bugis dianggap sebagai peristiwa sejarah yang benar-benar pernah terjadi.
Galigo itu berarti yang dimaksudkan adalah tembang-tembang dari naskah  La galigo yang dinyanyikan pada acara-acara ritual dengan ritme yang tetap dan datar. Jadi Manggaligo berarti menembangkan La Galigo sedang Panggaligo yang dimaksudkan adalah sang penembangnya. Sementara bila hanya menyebutkan I La Galigo itu berarti yang dimaksudkan adalah nama tokoh yang ada dalam naskah La Galigo. La Galigo merupakan karya sastra tulisan maupun lisan. Tradisi lisan ditemukan pada masyarakat bugis dan menjadi baku karena ketertulisannya. Tradisi Lisan La Galigo lebih dikenal dengan nama Sawerigading tokoh utama dalam La Galigo.
B.     Sejarah Perkembangan La Galigo
Epos La Galigo atau biasa juga dikenal dengan I La Galigo merupakan karya sastra (epos) yang terpanjang di dunia. La Galigo adalah hasil karya sastra dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia. Isinya sebagian berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epos ini menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh raja dunia atas atau raja langit bernama La Patiganna. Disebutkan pula bahwa epos ini bercerita tentang Sawerigading, seorang perantau juga pahlawan yang gagah berani. La Galigo sebenarnya tidak tepat disebut sebagai teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos-mitos. Namun, epos La Galigo tetap dapat memberikan gambaran kepada kita mengenai kebudayaan Bugis
Sureq Galigo adalah sebuah karya sastra dalam bahasa dan aksara Bugis (berbentuk syair dalam aksara lontaraq) sepanjang 6.000 halaman, yang sudah hampir dilupakan orang. Padahal, dari sudut panjangnya cerita - lebih panjang daripada Mahabarata, Ramayana, maupun Odyssey - Sureq Galigo sudah diakui sebagai naskah terpanjang di dunia. Naskahnya diduga sudah berusia lebih dari seabad, mulanya ditulis di atas lontar, berdasarkan penuturan yang terjadi secara turun-temurun selama ratusan tahun sebelumnya - diduga sejak abad ke-14. `La Galigo mempunyai struktur cerita yang besar dan panjang. Ia memuat beberapa sub cerita di dalamnya. Sub cerita yang disebut episode pun dapat dilihat dari dua dimensi. Di satu sisi, episode tersebut merupakan bagian cerita dari keseluruhan La Galigo namun di sisi yang lain episode tersebut juga merupakan cerita tersendiri dalam bingkai La Galigo.
Hal ini disebabkan antara lain karena panjangnya cerita yang melingkupi setiap tokoh, sehingga kadang-kadang tidak tertampung hanya dalam satu episode. Terkadang satu cerita terdapat pada dua atau tiga episode, hal tersebut tergantung banyaknya peristiwa yang diceritakan.

Awalnya La Galigo hanya dilisankan kemudian dituliskan setelah orang bugis mengenal aksara . Melalui media huruf lontarak teks-teks lagaligo dituliskan di atas naskah daun lontar atau keras. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bugis Kuno yang sebagian kosa katanya sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat bugis sekarang ini. Kekunoan ini terlihat pada formulanya.
C.    Kandungan La Galigo
Epos ini bermula dengan penciptaan dunia. Ketika dunia masih kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), raja langit, La Patiganna, mengadakan musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan berupa pelantikan anak lelaki raja langit yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (bumi) dan memakai gelar Batara Guru. Sebelum turun ke bumi, ia harus melalui masa ujian selama 40 hari 40 malam. Tidak lama sesudah ujian tersebut, Batara Guru kemudian turun ke bumi, di Ussu’, daerah Luwu’ yang saat ini menjadi Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.
Di kemudian hari, La Toge’ langi’ menikahi sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, raja alam gaib. Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu’. La Tiuleng sendiri lalu mendapatkan dua orang anak kembar bernama Lawe atau Sawerigading dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar tersebut tidak dibesarkan bersama-sama sehingga pada suatu saat Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng akibat ketidaktahuannya bahwa mereka masih bersaudara. Ketika ia mengetahui hal tersebut, ia lantas meninggalkan Luwu’ dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Sawerigading lantas melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Tiongkok. Selama perjalanan ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuk pemerintah Jawa Wolio yakni Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia lantas menikahi putri Tiongkok bernama We Cudai.
Sawerigading sendiri digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa. Ia pernah mengunjungi berbagai macam tempat, seperti Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau’ dan Jawa Ritengnga (diduga Jawa Timur dan Jawa Tengah), Sunra Rilau’ dan Sunra Riaja (diduga Sunda Timur dan Sunda Barat) serta Melaka. Ia pun dikisahkan pernah mengunjungi surga dan alam gaib. Sawerigading sendiri dikisahkan merupakan ayah dari La Galigo yang kemudian bergelar Datunna Kelling. La Galigo juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, perantau, dan pahlawan yang hebat. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari berbagai negara. Namun, seperti ayahnya pula, La Galigo dikisahkan tidak pernah menjadi raja. Anak lelaki La Galigo yang bernama La Tenritatta’ lah yang dikisahkan terakhir dinobatkan menjadi raja di Luwu’.
Isi epos ini merujuk pada masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan pemukiman yang berpusat di muara sungai, tempat kapal-kapal besar boleh berlabuh. Pusat pemerintahan pun yang terdiri dari istana dan rumah-rumah bangsawan terletak berdekatan dengan muara sungai. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang asing disambut baik di kerajaan Bugis. Para pedagang tersebut baru boleh berniaga setelah membayar cukai kepada pemerintah. Perniagaan ketika itu menggunakan sistem barter. Ketika itu, laut menjadi media yang sangat penting untuk saling berhubungan antar kerajaan. Golongan muda bangsawan di Bugis ketika itu pun dianjurkan untuk merantau sejauh mungkin sebelum mereka diberi tanggung jawab yang besar.
D.    Kepercayaan Masyarakat Bugis Tentang La Galigo
Epos la galigo dalam sebuah epos sakral dimata masyarakat bugis, epos ini mengisahkan bahwa dewa utama yang disembah oleh manusia (sebelum masuknya islam) adalah Patotoqe Atau Sang Penentu Nasib yang bermukim di istana boting langiq atau kerajaan langit. Patotoqe mengutus anaknya ke bumi yang bernama Togeq Langiq atau yang di sebut sebagai Batara Guru. Kemudian Batara Guru menikah dengan Sepupuhnya yang bernama We NyiliqTimo Dari Kerajaan Bawah Laut. Inilah yang merupakan Cikal Bakal dari Raja-raja Dibumi.Dewa-dewa itulah yang disembah dalam kepercayaan lama masyarakat bugis.
Sekelompok minoritas orang bugis, yang sebagian besar menetap Di Desa Buloe Kabupaten Wajo, Dan Amparita Kemacatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang Atau Sidrap adalah penganut agama To Lotang yang masih konsisten mempertahankan Agama Leluhur Bugis Klasik dulu. Menurut sejarahnya pada awalnya nenek monyang To Lotang berasal dari tanah wajo. Ketika Agama Islam Masuk di wajo dan diterima sebagai agama Kerajaan semua masyarakat kerajaan memeluk islam kecuali Penduduk desa Wani yang menolak islam. Raja pun mengusir mereka sebagain penduduk desa Wani menetap di desa Buloe Kabupaten Wajo dan sebagian lainnya mengungsi ke Desa Amparita Kabupaten Sidenrang Rappang (Sidrap). Penganut agama To Lotang mempercayai adanya tuhan yang maha esa yang mereka sebut Dewata Seuae. Menurut mereka kehidupan manusia didunia ini adalah kehidupan periode kedua. Dan periode pertama yakni periode jaman sewerigading dan pengikutnya. Kitab suci mereka adalah La Galigo Dan Sawerigading adalah sebagai Nabi Mereka.
Kitab suci penganut agama To Lotang adalah La Galigo dan nabi mereka yakni: Sawerigading itulah kepercayaan klasik yang dijaga hingga kini oleh masyarakat To Lotang. Seperti dalam epos la galigo pemimpin agama tertinggi disebut Uwaq kepada nya lah segala persembahan dan doa disampaikan, kemudian Pemimpin Agama atau Uwaq lah yang menyampaikan permintaan-permintaan kepada sang dewata. Di bawah Uwaq terdapat uwaq-uwaq yakni diistilahkan sebagai uwaq pendamping dari pemimpin uwaq. Uwaq-uwaq pendamping inilah yang membantu pemimpin uwaq atau ketua uwaq dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Uwaq-uwaq pendamping ini berjumlah 7 orang. Penganut agama To Lotang mengakui adanya Mola Lelang atau menelusuri jalan yang berarti kewajiban yang harus dijalankan oleh penganutnya sebagai pengabdian kepada Sang Dewata Seuae.
Kewajiban tersebut terdapat dalam 3 macam yakni :
1.      Mappaenre Inanre (Membawa sesembahan Nasi).
2.      Tudang Sipulung (Duduk berkumpul).
3.      Sipulung (Berkumpul).
Kegiatan kegiatan itu dipimpin oleh uwaq dan dibantu oleh uwaq-uwaq pendampingnya.
Ada dua macam aliran dalam agama To Lotang yakni To Lotang To Wani dan To Lotang To Benteng. To Lotang To Wani melaksanakan agama leluhur mereka secara murni, sedangkan To Lotang To Benteng mengakui bahwa dia adalah agama Islam tetapi sehari-harinya melaksanakan Ajaran agama To Lotang. Ajaran islam yang laksanakan hanya sebatas acara perkawinan dan acara kematian.
E.     Episode Dalam La galigo
Sejarah La Galigo diawali, ketika suatu pagi matahari baru saja mulai merangkak, nun jauh di atas istana Boting Langiq (kerajaan dewa di atas langit )sang Patooqe (Tuhan penentu nasib) bangun dari tidurnya dan melongok dari jendela istana Sao Kuta Pareppaqe (istana Guntur yang menggelegar). Alangkah terkejutnya ketika Sang Raja tidak menemui Rukkelleng Mpoba bersaudara ( Sang Penjaga
“kemana gerangan si penjaga ayam kesayanganku pergi?”
Belum sempat terjawab pertanyaan itu, belum reda kemarahan sang Patotoqe muncullah Rukkeleng Mpoba bersaudara menyembah sembari berkata :
“Tidaklah sempurna ketuhananmu wahai Tuanku sebelum ada orang yang menyembah di bumi. Aku baru saja pulang berkeliling dunia memperlagakan Guntur dan kilat, dan kusaksikan disana tak ada satu pun manusia, dunia kosong melompong, sepi tak bermakna”.
Sejenak sang Patotoqe tepekur tak berkata sepatah katapun. Tidak lama kemudian, dengan suara berat ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk menjemput saudaranya Sinauq Toja dan suaminya Guru ri Selleq agar naik ke botting langiq untuk mengikuti musyawarah. Tak lama kemudian, sepasang suami istri dari Buriq Liu itu datang diramaikan oleh pengiring-pengiringnya ke botting langiq. Di sana berlangsung musyawarah untuk membicarakan siapa gerangan generasi patotoqe yang pantas diturunkan ke bumi dan generasi Guru Ri Selleng untuk dimunculkan ke bumi agar menjadi sepasang suami istri yang kelak akan mengisi dan meramaikan dunia yang kosong tak berpenghuni itu.
Ternyata kemudian pilihan jatuh pada putra kesayangan patotoqe, La Togeq Langiq untuk turun dan menjelma menjadi manusia di Ale Kawaq (dunia tengah bumi). Di dunia La Togeq Langiq dikenal dengan nama Batara Guru. Dialah yang mempersunting We Nyiliq  Timoq saudara sepupunya, puteri Guru ri Selleq dari kerajaan BuriqLiu (dasar laut) yang kemudian dari sepasang dewa-dewi ini beranak bercucu di bumi, meramaikan hiruk-pikuk kehidupan duniawi. Dua sari cucu Batara Guru yang sangat terkenal adalah Sawerigading (generasi keempat) merupakan tokoh utama dalam cerita La Galigo.
Setiap generasi manusia bumi, baik secara vertikal mupun horizontal mempunyai ceita tersendiri, itulah kemudian yang menyebebkan kisah La Galigo menjadi panjang. Perjalanan kehidupan setiap tokoh dikisahkan dengan sangat cermat dan mendetail, mulai dari masa kecilnya, dewasanya, percintaannya, sampai keperkawinan dan kehidupannya di alam lain.
Cerita tentang setiap tokoh itulah kemudian disebut sebagai episode La Galigo. Setiap episode mempunyai cerita tersendiri, tetapi secara keseluruhan masih merupakan bagian dari bingkai cerita La Galigo yang panjang. Makanya lagaligo disebut pula sebagai cerita berangkai yang sambung menyambung bagai tak pernah ada habisnya seperti halnya kehidupan mansusia yang mengalir terus , dari satu generasi yang lain. Akibatnya lahir sebuah kisah epik kuno yang panjang.

F.     Keunikan Epos La galigo

La Galaligo sebuah epos yang berasal dari Tanah Bugis adalah sebuah epos terpanjang di dunia yang melebihi panjang dari Epos Mahabarata dari negeri India serta sajak-sajak Humerus dari Yunani. La Galigo sendiri adalah sebuah alur cerita yang sangat memusingkan bagi si pencari berita yang dimana dari gulungan-gulungan kecil yang dikumpulkan hingga menjadi beribu-ribu halaman yang dimana tokoh utama dalam cerita sangat jauh berbeda dari apa yang kita pikirkan selama ini.
Epos La Galigo sangatlah unik. Sebagaimana Karakter tokoh utama dalam epos-epos selain la galigo memberikan sosok tokoh utama itu sebagai sosok yang sopan, santun, tanggung jawab, sabar. Sedangkan sosok utama dalam epos La Galigo yakni Sawerigading Dan La Galigo menggambarkan sosok keturunan dewa yang Nakal, Suka berkelahi, tidak sabar (apa yang diinginkan harus terlaksana), mempunyai emosi yang labil. Ini mengambarkan bahwa walaupun mereka titisan sang dewata tetapi mereka masih saja berkarakter manusia biasa. Disinilah ketulusan hati para penyair bugis menggambarkan cerita apa adanya.
Keunggulan lain dari La Galigo sebagai karya sastra bukan hanya dalam bentuk tulisan, namun juga telah menyebar dalm bentuk lisan ke berbagai daerah, sebab terbukti tokoh utama dalam La Galigo, Sawerigading, secara mitologis dikenal pada berbagai etnik di Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia.
Bukan hanya itu saja para peneliti dari Negara asing masih menganggap epos ini dipenuhi dengan mitos-mitos yang jauh diluar kepala manusia. Contohnya saja Masyarakat bugis mengklaim bahwa manusia pertama di dunia itu adalah Manurung Ri Luwu. Kerajaan Langit, Kerajaan Bawah Air. Bila kita pikirkan dengan akal sehat semua kita katakan hanya omong kosong belaka tetapi itulah kepercayaan Masyarakat Bugis yang memercayai semua kejadian-kejadian pada epos la galigo.
G.    Mengapa Epos Tersebut Dinamakan La Galigo ?
Epos tersebut disebut La Galigo dikarenakan alur cerita tentang Sosok La Galigo ini paling terpanjang di bahas dalam sastra tulis klasik bugis tersebut. Tetapi bila kita melihat cerita demi cerita maka cerita utama dalam epos La Galigo terdapat pada kisah Cinta Sawerigading dan saudara kembarnya We Tenriabeng, Sawerigading menjalani hukuman adat untuk pergi ke negeri cina untuk bertemu dengan We Cudai calon istrinya yang direkomendasikan oleh Saudara Kembarnya We Tenriabeng.
H.    La Galigo Dijadikan Kitab Suci Bagi Orang Bugis
La galigo  merupakan kitab suci atau pedoman bagi orang bugis (Sebelum masuknya Islam). Karena, epos La Galigo tetap dapat memberikan gambaran kepada kita mengenai kebudayaan Bugis. Keberadaan La Galigo dalam masyarakat Bugis telah menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat Bugis sejak dahulu. Sebagai sebuah karya, sebagian para ahli melihat La Galigo dalam berbagai perspektif, antara lain sebagai karya sastra dan ada juga yang menganggapnya sebuah tulisan sejarah. Terlepas dari semuanya, La Galigo telah menempatkan dirinya sebagai sebuah karya yang menjadi pedoman hidup sebuah komunitas masyarakat yang hidup sampai saat ini. Isinya meliputi berbagai macam sumber tradisi, norma-norma, serta konsep-konsep kehidupan masyarakat bugis.
La Galigo adalah realitas baru dari idealisme leluhur. Selama berabad-abad terbukti La Galigo telah berfungsi sebagai realitas baru yang dianggap ideal yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan oleh masyarakatnya. Telah saatnya kesadaran akan kekayaan budaya sendiri dibangun sedemikian rupa agar mampu melihat diri kita sendiri. Kesadaran akan tingginya peradaban dan kebudayaan leluhur di sisi lain juga tak seharusnya sekedar menjaga teks, literatur dan kitab kuno melainkan penjagan terhadap kandungannya dalam keseharian.
I.       Bissu
Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi, Indonesia.
Para Bissu mengenakan sejenis gaun dan pakaian yang tidak dikenakan oleh jenis kelamin lain, namun juga memasukkan elemen dan karakter pakaian "pria" dan "perempuan", yang menjelaskan mengapa golongan Bissu tidak dapat disebut sebagai waria, karena mereka hanya diizinkan untuk memakai pakaian yang sesuai untuk kasta gender mereka.
Dalam budaya Bugis, para Bissu biasanya dimintai nasihat ketika "persetujuan tertentu" dari kekuasaan dunia batin (spiritual) diperlukan. Hal ini terjadi misalnya ketika orang Bugis Sulawesi berangkat untuk perjalanan naik haji ke Mekah. Dalam situasi ketika dimintai nasihat, seorang Bissu akan melakukan ritual untuk mengizinkan jin yang sangat baik untuk merasuki mereka dan untuk berbicara sebagai utusan dari dunia tak nampak. Golongan Bissu yang telah terlatih dikenal dengan keunikannya dimana mereka dipercaya tak mempan sama sekali akan senjata tajam.
Dalam struktur budaya bugis, peran Bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit ( basa Torilangi.  karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure’ La Galigo. Apabila sure’ ini hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah Bissu mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan sure’
itu. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan ( indo’ botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.
Dari surek La Galigo sendiri sebagai referensi utama sejarah purba suku Bugis, membuktikan bahwa justru kehadiran Bissu dianggap sebagai pengiring lestarinya tradisi keilahian/religiusitas nenek moyang. Di masa lalu berdasarkan sastra klasik Bugis epos La Galigo, sejak zaman Sawerigading, peran Bissu sangat sentral, bahkan dikatakan sebagai mahluk suci yang memberi stimulus ‘perahu cinta’ bagi Sawerigading dalam upayanya mencari pasangan jiwanya; We Cudai. Di tengah kegundahan Sawerigading yang walau sakti mandraguna tapi tak mampu menebang satu pohon pun untuk membuat kapal raksasa Wellerrengge, Bissu We Sawwammegga tampil dengan kekuatan sucinya yang diperoleh karena ambivalensinya; lelaki sekaligus perempuan, manusia sekaligus Dewa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar